Rabu, 26 November 2008

PENGEMBANGAN KARYA PEWARTAAN PAROKI

A. Latar belakang Pengembangan

Pertama, Karya pewartaan di paroki dewasa ini dihadapkan pada permasalahan dan keprihatinan mengenai katekis atau pewarta. Berbagai pertemuan cukup banyak memberikan refleksi menyangkut permasalahan tersebut. Permasalahan itu menyangkut menurunya mutu katekis atau pewarta paroki dari segi pemahaman dan pengetahuan imannya, begitu juga sering muncul permasalahan menyangkut kurangnya usaha regenerasi atau kaderisasi. Hal itu tampak dari dominasi katekis atau pewarta yang sudah berusia lanjut dan kurangnya keterlibatan kaum muda untuk terlibat dalam karya ini Padahal, karya pewartaan merupakan kegiatan yang vital bagi pengembangan hidup menggereja kedepan.

Kedua, tantangan karya pewartaan Gereja dewasa ini semakin kompleks dan memerlukan kreatifitas, inovasi dan kontekstualitas yang mampu menyapa orang dewasa ini. Banyak sinyalemen yang mencuat persoalan menurunya perhatian umat terhadap kegiatan pewartaan, secara khusus yang menyangkut katekese. Sebagian besar dari mereka tidak tertarik pertemuan katekese karena sering kali dijumpai proses katekese yang kurang menyapa, membosankan dan kaku. Begitu juga, sering kali muncul sinyalemen, bahwa katekese di paroki masih berat sebelah, hanya mementingkan aspek pengalaman iman semata tanpa ada pengembangan pemahaman iman yang lebih mendalam. Maka, karya pewartaan membutuhkan pembaruan, mengingat tantangan dan permasalahan tersebut. Berbagai pembaruan metode, bentuk dan isi perlu diupayakan dan diusahakan, walaupun ada ketegangan antara memperkembangkan keleluasaan dan kreatifitas dengan tidak meninggalkan arti dan makna yang sejati terkandung di dalam setiap pengajaran iman. Artinya, walaupun kreatif, menggembirakan dan mampu menyapa umat dengan berbagai sentuhan cita rasa, namun tidak meninggalkan kekhasan katekese sebagai pengajaran dan pendewasaa iman.

Ketiga, sering kali muncul permasalahan di paroki, bahwa karya pewartaan kurang dikelola secara baik. Pola kerja katekis atau pewarta yang terjadi sering kali masih terbatas pada kerja individual (single fighter). Begitu juga, karya pewartaan masih kurang melibatkan berbagai komponen umat dalam seluruh aspek hidup menggereja. Karya pewartaan kurang terencana dan terprogram, masih spontanitas dan kurang terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama dengan bidang hidup menggereja lainnya.

B. Maksud dan Tujuan pengembangan

Pertama, pengembangan karya pewartaan dimaksudkan agar mutu katekis atau pewarta ditingkatkan. Peningkatan itu, yaitu menyangkut kemampuan katekis atau pewarta menjadi seorang perantara. Seorang perantara, harus mampu mempermudah komunikasi antara manusia dengan misteri Allah, dimana setiap orang dapat berjumpa dengan pengalaman yang mendalam akan Allah, baik bersifat pribadi maupun dalam paguyuban hidup menjemaat. Peran katekis atau pewarta dituntut mampu mensintesakan misteri mengenai Allah ke dalam realitas hidup manusia dewasa ini. Kemampuan tersebut meliputi bagaimana seorang katekis atau pewarta mampu berefleksi atas pengalaman hidupnya dengan nilai-nilai akan Allah. Hal itu menuntut peran katekis atau pewarta sebagai fasilitator untuk membawa makna yang progresif dan koheren antara pengalaman akan Tuhan dan isi pesan iman. Untuk itu peningkatan kompetensi katekis atau pewarta menjadi pemikir dan fasilitator yang mampu membuat sebuah alternatif pendampingan yang progresif dan mampu mengajak umat mensintesakan kembali pengalaman akan Allah, menghadirkan kembali keriduan akan Allah di dalam konteks kemajuan zaman dewasa ini, sangat diperlukan. Peran ini harus dikembangkan, tidak terbatas pada katekese inisiasi, melainkan juga pengembangan peran katekis atau pewarta untuk merumuskan refleksi dan metodologi di dalam katekese lanjut. Dalam pengembangan itu, seorang katekis diharapkan mampu meneruskan tidak sekedar ajaran melainkan juga pembinaan Kristiani seutuhnya, dengan mengembangkan tugas inisiasi, pendidikan dan pengajaran, seorang katekis diharapkan mampu menjadi guru, pendidik dan saksi-saksi iman secara bersamaan.

Dalam konteks tersebut, katekis atau pewarta menempatkan fungsinya yang relevan sebagai orang yang secara profesional mengembangkan peran-peran edukatif dan transformatif untuk mengajak umat dalam hidup menggereja dan merefleksikan hidupnya dengan visi kristianitas yang mendalam.

Maka, pengembangan karya pewartaan di paroki bertujuan untuk meningkatkan mutu dan mendayagunakan sumber daya para petugasnya, yaitu katekis atau pewarta. Dengan peningkatan tersebut, diharapkan katekis atau pewarta secara optimal dapat membantu umat agar mampu mengembangkan kualitas hidup menggereja melalui tindakan-tindakan yang bersifat kolektif atau bersama dalam satu komunitas maupun hidup pribadi berdasarkan iman dan tradisi suci yang digelutinya.

Kedua, pengembangan karya pewartaan dimaksudkan agar ada pembaruan secara terus menerus terhadap metode, bentuk, cara dan isi karya katekese. Tujuannya agar katekese selalu berorientasi dan peka terhadap situasi dan perkembangan yang sesuai dengan hidup dan budaya umat. Begitu juga, katekese dapat kembali lagi kepada kekhasannya sebagai pengajaran dan pendewasaan iman, dengan pola-pola katekese yang utuh dan menyeluruh.

Ketiga, pengembangan karya pewartaan dimaksudkan agar ada perubahan dalam pola kerja katekis atau pewarta di paroki. Tujuannya, meningkatkan tata perencanaan, pengkoordinasian dan keberlanjutan. Hal itu, karya pewartaan melibatkan beberapa sumber daya yang ada, seperti kaum muda, para guru, aktivis lingkungan, pengurus dewan paroki, pastor dan lain sebagainya yang terkait, dan yang saling berkerjasama mulai dari perancangan, pelaksanaan, sampai evaluasi, supaya kegiatan hidup menggereja menjadi kegiatan yang berdemensi personal sekaligus kolektif. Berdasarkan pengelolaan dan pola kerja yang baik, diharapkan ada upaya regenerasi atau kaderisasi. Regenarasi atau kaderisasi merupakan prinsip dasar bahwa seluruh aktivitas mempunyai keterbatasan akan waktu, kondisi serta potensi.


C. Pengembangan katekis, katekese dan pola kerja karya pewartaan paroki.

1. Peningkatan mutu dan kaderisasi katekis atau pewarta paroki.

Peningkatkan mutu dan kaderisasi katekis atau pewarta pada intinya merupakan kegiatan meningkatkan berbagai sumber yang melatarbelakangi atau mendasari karya katekis atau pewarta, agar sumber-sumber daya tersebut mampu menjadi dorongan bagi karya mereka baik bagi pribadi katekis atau pewarta itu sendiri, maupun kolektif sebagai tim di paroki. Sumber tersebut dapat berupa sumber personal (pengetahuan, motivasi, pengalaman hidup, motivasi dan spiritualiatas), sumber interpersonal (berbagai hal yang mendukung dalam interaksi dengan sumber-sumber lain), dan sumber sosial (situasi serta kondisi yang mendukung hidup menggereja pada umumnya yang juga terkait dengan peran atau sumbangan organisasi dalam gereja).

Dalam peningkatan mutu dan kaderisasi, kegiatan yang paling memegang peran adalah pendampingan terhadap katekis atau pewarta. Hal itu dikarenakan, pendampingan katekis atau pewarta adalah usaha yang memungkinkan katekis atau pewarta baik secara pribadi maupun sebagai tim secara terus menerus ditingkatkan kualitasnya baik mutu maupun kaderisasi atau regenerasinya.

a. Peningkatan mutu katekis atau pewarta paroki.

Peningkatan mutu katekis atau pewarta di paroki merupakan unsur penting untuk mengembangkan kualitas sumber daya karya pewartaan di paroki. Kegiatan pewartaan itu dewasa ini membutuhkan kompetensi yang serius, mengingat tantangan zaman maupun tantangan karya yang dituntut untuk semakin berkembang dan peka terhadap segala arus perubahan. Begitu juga, mutu karya pewartaan itu amat dipertaruhkan di pundak para petugas pewarta atau katekis. Untuk itu peningkatan mutu para pewarta atau katekis dapat dilakukan dengan memberikan perhatian pada pembaharuan secara terus menerus bahan/teks dan on going formation katekis atau pewarta .

Peningkatan mutu katekis atau pewarta di paroki, dapat mempertimbangkan bahan-bahan yang selalu menjadi fokus dan penunjang karya. Bahan-bahan tersebut meliputi: visi dan wawasan hidup menggereja, pengetahuan biblis-teologis dan iman, peningkatan kemampuan dan ketrampilan di dalam berkatekese, dan peningkatan semangat dan spiritualitas karya pewarta/katekis.

[1]. Visi dan wawasan hidup menggereja

Kesadaran apostolik para pewarta katekis bahwa dirinya adalah seorang pewarta Injil merupakan visi dan wawasan hidup menggereja yang harus senantiasa dipupuk dan disuburkan terus menerus. Alasan itulah yang harus menyadarkan para ketekis untuk selalu ingat bahwa mereka bertugas untuk menghayati usaha-usaha evangelisasi kongkret yang diselenggarakan di paroki. Para katekis dan pewarta harus senantiasa disadarkan bahwa mereka merupakan orang-orang yang terpanggil untuk merasul .
Dalam merasul itu, mereka berhadapan dengan umat yang hendak mereka bangun. Maka para katekis atau pewarta ini harus dapat selalu memahami apa yang akan mereka capai. Peningkatan pemahaman akan visi dan wawasan hidup menggereja terkait dengan model Gereja, opsi Gereja dewasa ini, model-model pembangunan jemaat, dokumen Gereja dan lain sebagainya yang pada intinya terkait dengan pengembangan wawasan hidup menggereja
tersebut perlu selalu ditingkatkan.

[2]. Pengetahuan biblis-teologis dan iman
Seorang katekis disamping seorang saksi, mereka juga seorang pengajar iman. Maka segi pengetahuan akan pengajaran iman harus terus ditingkatkan. Pengajaran iman ini dapat ditingkatkan dengan pembinaan biblis-teologis yang memadai agar para katekis mempunyai kesadaran utuh tentang pesan Kristiani. Pesan Kristiani tersebut meliputi pembinaan doktrinal (sejarah keselamatan: Perjanjian Lama, hidup Yesus Kristus dan sejarah Gereja) dan inti pesan mengenai syahadat, liturgi, hidup moral dan doa. Pembinaan tersebut pertama-tama merupakan suatu rangkuman utuh dan merupakan sintesis iman yang sedemikian rupa membantu katekis mematangkan imannya sendiri dan memungkinkan memberikan penjelasan bagi umat. Pembinaan tersebut harus mendasar dan dekat dengan pengalaman manusiawi dan mampu mengkaitkan pelbagai pesan Kristiani dengan kehidupan kongkret.

[3] Peningkatan kemampuan dan ketrampilan di dalam berkatekese

Tantangan zaman mengharuskan pola berkatekese disesuaikan dengan situasi yang ada. Kemajuan tehnologi dan perkembangan berbagai metode pendampingan mengharuskan katekese mengembangkan pola-pola yang kreatif dan inovatif. Maka peningkatan ketrampilan dan kemampuan katekese bagi para katekis merupakan suatu keharusan yang perlu diupayakan. Peningkatan itu meliputi: kemampuan atau ketrampilan katekis dalam menganalisa situasi dengan visi Kristiani dan pesan Kitab Suci, mengembangkan berbagai metode-metode pendampingan yang inovatif, terampil dalam mempergunakan dan memperkembangkan sarana katekese yang dewasa ini sarat dengan berbagai media dan tehnologi, dan terampil mengorganisir rencana penyadaran/konsientisasi umat untuk langkah tindak lanjut.

[4] Peningkatan semangat/motivasi dan spiritualitas karya pewarta/katekis

Setiap perjalanan karya membutuhkan motivasi/semangat yang harus tetap terjaga. Begitu pula di dalam pengembangan karya pewartaan, para katekis/pewarta harus senantiasa ditingkatkan motivasi/semangat serta spiritualitasnya. Hal itu sangat penting untuk memurnikan dan memperteguh kembali karya mereka sebagai seorang pewarta Injil. Tujuannya agar menguatkan spiritualitas mereka, sehingga segala karya dan kegiatan yang dilakukan dalam kebenaran dan kesaksian hidupnya sendiri. Para katekis memberikan katekese bagi umat, namun pertama-tama mereka berkatekese untuk dirinya sendiri dahulu. Peningkatan semangat dan spiritualitas ini dapat dikembangkan melalui upaya menggali pengalaman mereka, mengajak mereka menggali spiritualitas sebagai pewarta/katekis, memetakan kembali disposisi batin dan mengajak kepada renungan-renungan rohani. (bahasan ini akan diulas lebih dalam pada bagian spiritualiatas).

b. Kaderisasi atau regenerasi katekis atau pewarta paroki.

Karya pewartaan atau katekese menopang secara mendasar perkembangan Gereja. Pelayanan katekese merupakan pelayanan Gereja yang fundamental, yang tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan Gereja. Hal itu dikarenakan katekese bukanlah karya yang bersifat alasan pribadi semata melainkan dilaksanakan atas nama Gereja dengan mengambil bagian dalam perutusan. Maka konsekwensinya, tanggung jawab Gereja untuk selalu meneruskan tongkat estafet pada setiap generasi demi perkembangan menjadi sesuatu yang mutlak untuk dilaksanakan. Keterbatasan sumber daya karena perkembangan kuantitas umat, perkembangan teritorial, dan surutnya tenaga para katekis/pewarta karena faktor umur dan mobilisasi yang tak tentu mengharuskan untuk mengupayakan usaha regenerasi atau kaderisasi. Disamping hal itu, regenerasi atau kaderisasi tersebut dapat bertujuan untuk selalu memperbaharui dan meningkatkan keterputusan jurang antar generasi dan meningkatkan keterlibatan bagi kaum muda.

Upaya regenerasi atau kaderisasi katekis ini perlu menjadi perhatian khusus terkait dengan bahan-bahan yang digunakan. Hal itu dikarenakan karena peserta atau calon katekis sering kali adalah seorang yang belum mempunyai pengalaman berkatekese yang kompeten. Maka bahan-bahan yang bersifat dasar perlu menjadi perhatian utama. Bahan –bahan yang dapat dikembangkan adalah menggali disposisi dan motivasi panggilan, pengetahuan dasar tentang katekese, pengorganisasian katekese meliputi peta karya dan perencanaannya dan spiritualitas pewarta.

[1]. Menggali disposisi dan motivasi panggilan

Calon katekis dengan berbagai latar belakang mempunyai disposisi dan motivasi yang mendasarinya. Disposisi dan motivasi tersebut harus digali secara mendalam untuk menjernihkan dan memantapkan keterlibatannya dalam karya pewartaan.

[2]. Pengetahuan dasar tentang katekese

Calon katekis yang tidak mengenyam pendidikan akademis kateketik perlu mendapatkan pengetahuan yang mendasar mengenai katekese. Namun bagi yang berlatar belakang akademisi kateketik minimum berlatar belakang keguruan umum pengetahuan tersebut menjadi proses untuk mengingat kembali atau sebagai pengayaan. Maka dalam rangka bahan tersebut, pendamping hendaknya membuat pemetaan agar tidak ada kesenjangan antar calon katekis yang tidak dan yang berlatar belakang akademisi kateketik. Bahan itu dapat meliputi: inti proses katekese dan unsur serta prinsipnya, katekese yang dikembangkan di Indonesia (Katekese Umat), dan bahan-bahan dasar yang dapat menunjang pengetahuan soal katekismus untuk katekese insiasi.

[3]. Pengorganisasian katekese: peta karya dan perencanaan.

Calon katekis biasanya belum mengetahui dan mengenal medan karya yang akan digeluti. Maka pengenalan akan medan karya meliputi pemetaan dan perencanaan karya pewartaan perlu menjadi bahan yang amat diperlukan. Bahan-bahan ini meliputi: peta karya tim pewartaan di paroki, berbagai karya yang dikembangkan di paroki, perencanaan karya dan bagaimana mengorganisasinya. Kepentingannya adalah memberikan gambaran dan orientasi mendasar ruang karya yang akan digeluti, sehingga dapat mengambil posisi sesuai dengan potensinya.

[4]. Spiritualitas pewarta

Calon katekis membutuhkan daya dorong baik yang bersifat memotivasi, meneguhkan maupun menjernihkan dari segi spiritualitas. Maka spiritualitas pewarta perlu menjadi orientasi mendasar bagi calon katekis. Kepentingannya memberikan sentuhan batin yang bersifat menyapa hati yang terdalam (kenousis) untuk terlibat dalam pewartaan.

c. Model-model peningkatan mutu dan kaderisasi katekis atau pewarta paroki.

Peningkatkan mutu dan kaderisasi katekis atau pewarta dapat dikembangkan dengan beberapa model, sebagai berikut :

[1]. Model Partisipasi Langsung

Pendamping mengajak katekis dan calon katekis untuk terlibat secara partisiaptif/langsung dalam suatu pendampingan katekese atau berbagai aktivitas pengembangan yang terkait dengan tehnik dan metode. Metode ini mempunyai kelebihan bahwa peserta, dalam hal ini katekis atau calon katekis dapat mengalamii langsung suatu aktivitas yang bersifat kongkret. Melalui kegiatan tersebut, katekis atau calon katekis mempunyai gambaran yang kongkret untuk apa yang harus dikembangkan, begitu juga, mampu dikembangkan atau ditingkatkan ketrampilannya. Model ini biasanya lemah pada sisi pembekalan pengetahuan dasar satau pengembangan konsep-konsepnya.

[2] Model Kursus

Pendamping dengan bantuan tim/panitia dan berbagai nara sumber memberikan pembekalan pengetahuan yang dapat diselenggarakan dengan bertahap. Model ini biasannya ada kurikulum atau bahan yang bersifat sistematis yang digunakan untuk acuan. Kelebihan model ini adalah kuat pada segi pengetahuan, namun amat lemah pada segi ketrampilan.

[3]. Model Pelatihan (Training) / Lokakarya/ Workshop

Pendamping dengan bantuan tim dan berbagai nara sumber mengupayakan suatu proses pendampingan yang menggabungkan unsur pengalaman kongkret dan pembinaan aspek pengetahuan. Prinsipnya, model ini mencoba untuk mengoptimalkan ketrampilan dan segi pengetahuan yang utuh. Maka model pendampingan ini, peserta tidak hanya dikembangkan ketrampilannya melainkan juga segi konsepnya. Biasannya model ini mempunyai empat unsur, yaitu: 1) Pemberian teori (lecturing teori), 2) Pengamatan dan refleksi (observation & refection), 3) Pengalaman langsung (active experimentation) dan 4) Rangkuman serta evaluasi, melihat kembali untuk kepentingan perkembangan selanjutnya (review-progress). Model ini memang mempunyai kelebihan dari sisi keutuhan pengembangan potensi, namun mempunyai konsekwensi dari sisi waktu, persiapan, dan kepanitiaan yang cukup besar. (Model ini akan dipaparkan secara terperinci untuk peningkatan mutu dan regenerasi katekis pada bagian berikutnya)


2. Pengembangan karya katekese di paroki.

Karya katekese menjadi salah satu metode dan bentuk pewartaan yang khas. Kekhasan tersebut terletak bahwa katekese memuat segi pemahaman dan pengetahuan iman. Kekhasan tersebut tampak melalui rumusan, bentuk, sarana dan metode katekese, serta isi dari pemahaman dan pengetahuan iman itu sendiri untuk membentuk pola-pola hidup kristen yang sejati. Maka, untuk kepentingan pengembangan karya katekese ini, Tim Pewartaan paroki perlu memperhatikan beberapa pokok-pokok pemikiran sebagai berikut ini:

[1]. Bentuk dan metode katekese

Bentuk dan metodologi katekese pada intinya adalah pembinaan dan pendewasaan iman umat. Bentuk dan metodologi tersebut disamping menempatkan pemahaman iman, namun juga mempertimbangkan proses komunikasi iman dengan memperhitungkan berbagai keberagaman metode katekese dan berbagai pendekatan yang mendukung . Katekese harus menempatkan secara proporsional antara pengalaman iman dan pemahaman iman. Maksudnya, tidak perlu dipertentangkan mengenai apa yang menyangkut pengalaman dan pengetahuan, keduanya harus saling melengkapi dan bersinergi .

[2]. Cara dan sarana pendukung katekese

Setiap situasi hidup umat merupakan medan dan karya katekese. Karya katekese dituntut mempergunakan berbagai sarana agar orang mampu meresapi sabda Allah di dalam aktualisasi hidupnya. Maka, hal itu harus mendorong katekese menuju kepada kebaharuan dalam mempergunakan cara dan sarana-sarana modern, yang telah dihasilkan oleh peradaban sekarang ini untuk menyampaikan Injil. Katekese harus terbuka untuk mempergunakan cara yang lebih populer, sesuai dengan budaya setempat dan perkembangan umur serta mempergunakan sarana-sarana audio visual yang maju.

[3]. Isi katekese

Katekese mempunyai dua dimensi fungsi strategis yang khas dalam hidup menjemaat umat. Dimensi pertama, katekese berfungsi membantu proses inisiasi, dan yang kedua, katekese berfungsi membantu bina lanjut iman umat. Untuk kepentingan dua proses itu, katekese mempunyai isi yang harus diperhatikan. Pertama, katekese harus memberikan berbagai pokok-pokok iman Katolik yang otentik bagi kepentingan inisiasi umat. Kedua, katekese harus mampu membantu umat bertumbuh hidup imannya, baik dari segi spiritualitas, pemahaman iman serta pembaruan hidup beriman yang memasyarakat.


3. Pengembangan pola kerja dan pengorganisasian Tim Pewartaan di paroki

Beberapa hal diatas yang menyangkut upaya peningkatan mutu dan kaderisasi katekis atau pewarta serta pengembangan katekese di paroki tidak akan berjalan maksimal tanpa prinsip-prinsip yang dikembangkan sebagai Tim pewartaan di paroki. Prinsip-prinsip itu meliputi [1] gaya kepemimpinan dalam pendampingan [2] pola-pola pengorganisasian [3] perencanaan, pengkoordinasian, dan pemantauan aktivitas.

a. Gaya kepemimpinan dalam pendampingan katekis atau pewarta paroki.

Seorang anggota tim pendamping adalah tim yang mampu membantu orang lain untuk semakin berkembang daya potensinya. Untuk itu tim itu hendaknya selalu berperan sebagai seorang fasilitator bukan sebagai “guru” atau “pengajar” secara langsung yang mendominasi dan serba paling berkuasa. Hal itu dapat dilakukan, jika pendamping mampu menjadi fungsinya sebagai pemungkin/pemudah (enabling) dan pendukung (supporting).
Peranan sebagai pemungkin (enabling) adalah kemampuan memberikan berbagai metode agar secara maksimal orang lain mengembangkan segala potensinya. Prinsipnya seorang anggota tim pendamping menjadi pemudah orang lain tumbuh niat belajarnya, niat untuk mengembangkan potensinya dengan bebas dan tanpa paksaan. Sedangkan, peran sebagai pendukung (supporting) lebih-lebih adalah peranan seorang anggota tim pendamping untuk menjadi orang yang membantu orang lain memberikan berbagai akses belajar, bahan, serta pengorganisasian agar orang lain mempunyai situasi serta sarana untuk mengembangkan dirinya. Seorang anggota tim pendamping bukan menjadi seorang yang tahu segalanya dan sumber utama informasi/pengetahuan tentang katekese atau pewartaan, melainkan menjadi pemudah dan pendukung agar banyak orang lain mampu mengembangkan karya pewartaan tersebut, baik dari segi ketrampilan, metode dan pengetahuannya.
Maka kegiatan yang perlu diperhatikan sebagai seorang tim pendamping katekis atau pewarta karya pewartaan itu adalah sebagai berikut:
  • Mendeskripsikan dan mendefinisikan siapa saja yang dapat dilibatkan dalam pelaksanaan pengembangan karya pewartaan tersebut.
  • Mendefinisikan tujuan dan alasan serta maksud keterlibatan pengembangan karya pewartaan tersebut.
  • Mendorong terjalinya komunikasi dan relasi, begitu juga menghargai berbagai pengalaman dan perbedaan-perbedaan yang ada.
  • Mengidentifikasi masalah-masalah yang akan dipecahkan dengan menemukan kesamaan dan perbedaan serta pemetaan potensi meliputi dukungan, kelemahan, serta kesempatan/peluang .
  • Memfasilitasi berbagai upaya pendidikan yang bersifat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan terkait karya pewartaan.
  • Memberikan model atau contoh dan memfasilitasi pengembangan karya pewartaan yang bersifat mendorong kegiatan kolektif maupun personal.
  • Memfasilitasi penetapan tujuan pengembangan karya pewartaan.
  • Merancang berbagai solusi-solusi alternatif jika menemukan kendala yang terjadi.
  • Mendorong pelaksanaan tugas pengembangan karya pewartaan.
  • Memelihara relasi dan terjalinya proses pengembangan karya pewartaan secara terus menerus.
b. Pola-pola pengorganisasian pendampingan katekis atau pewarta
  • Pendampingan lebih diartikan sebagai proses kegiatan, ketimbang sebagai sebuah hasil dari suatu kegiatan. Dalam pendampingan, hendaknya ada suatu interaksi dan bentuk kerjasama antara pendamping dengan peserta didiknya. Paserta didik merupakan subyek yang harus dikembangkan potensi dirinya. Peserta didik adalah partner yang memiliki potensi dan sumber yang dapat digunakan dalam proses pendampingan. Pendampingan katekis atau pewarta dapat diupayakan melalui peningkatan mutu dan regenerasi atau pengadaan tenaga baru. Maka prinsip pendampingan itu hendaknya mempertimbangkan berbagai hal tersebut. Salah satu yang dapat dikembangkan sebagai pola pendampingan katekis atau pewarta adalah prinsip-prinsip partisipatif. Prinsip-prinsip itu meliputi:
  • · Kesetaraan dan Kemitraan (Equal Partnership). Pada dasarnya setiap orang mempunyai ketrampilan, kemampuan dan prakarsa serta mempunyai hak untuk menggunakan prakarsa terlibat dalam setiap proses guna membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang dan struktur masing-masing pihak. Maka prinsip pendampingan katekis atau pewarta, hendaknya memperhitungkan aspek ini. Para ketekis yang sudah berpengalaman untuk tujuan peningkatan mutu perlu digali semangat, visi, dan pengalaman mereka tidak hanya dijejali pengetahuan saja. Begitu juga untuk para calon katekis yang mau terlibat pendampingan harus memperhitungkan latar belakang mereka, pengetahuan mereka, dan proses yang lebih bersifat menumbuhkembangkan potensi mereka. Pada intinya para pendamping dan peserta didik adalah setara dan mau untuk saling belajar.
  • Keterbukaan dan dialog. Semua pihak harus dapat menumbuh-kembangkan komunikasi dan iklim berkomunikasi terbuka dan kondusif sehingga menimbulkan dialog. Para pendamping hendaknya mengupayakan agar para katekis dan calon katekis mempu saling terbuka dalam setiap pendampingan yang diselenggarakan. Keterbukaan ini sangat penting, untuk mempermudah proses pendampingan agar ada usaha untuk saling mengembangkan.
  • Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility). Sebagai pendamping, katekis dan calon katekis mempunyai tanggung jawab yang disandangnya. Tanggung jawab tersebut hendaknya dilihat sesuai dengan bidang yang digeluti, yaitu karya pewartaan. Maka tanggung jawab tersebut merupakan tanggung jawab yang harus dipikul bersama, bahwa pengembangan karya pewartaan bukan tanggung jawab mereka yang sudah senior saja, melainkan juga tanggung jawab bersama.
  • Pemberdayaan (Empowerment). Keterlibatan berbagai pihak tidak lepas dari segala kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya, sehingga melalui keterlibatan aktif dalam setiap proses kegiatan, terjadi suatu proses saling belajar dan saling memberdayakan satu sama lain. Maka dalam pengembangan karya pewartaan, pendamping hendaknya mengupayakan para katekis dan calon katekis untuk selalu terlibat agar ada pemberdayaan potensi yang dimiliki.
  • Kerjasama. Diperlukan adanya kerjasama berbagai pihak yang terlibat untuk saling berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai kelemahan yang ada, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumberdaya manusia. Pengembangan karya pewartaan membutuhkan kerja sama antara pendamping, para katekis yang sudah berkarya, dan calon katekis, begitu juga kerja sama dengan Dewan Paroki dan berbagai bidang lain untuk pengembangan karya pewartaan ini.
  • Disamping berbagai prinsip-prinsip partisiptif yang dikembangkan, pendampingan katekis atau pewarta harus memperhatikan juga berbagai unsur-unsur dibawah ini :
  • Mengupayakan semangat panggilan karya pewartaan atau katekese.
  • Mengupayakan pembagian karya katekese yang seimbang dan meningkatkan tenaga katekis atau pewarta bagi pelbagai kelompok yang membutuhkan. Hal itu untuk meningkatkan karya pelayanan katekese bagi kelompok-kelompok baik teritori dan kategorial, baik kebutuhan katekese inisiasi (baptis, komuni pertama, dan krisma) maupun katekese lanjut (pembinaan iman umat).
  • Mengupayakan secara memadai pembinaan katekis atau pewarta terkait dengan latihan dasar maupun bina lanjut.
  • Memperhatikan kebutuhan pribadi dan rohani/spiritualitas para katekis sebagai tim.
  • Mengupayakan koordinasi para katekis dengan para tenaga pastoral lainnya, dan mengusahakan agar para katekis tidak terasing dari hidup komunitasnya.
c. Perencanaan, pengorganisasian dan pemantauan aktivitas karya pewartaan di paroki

Karya katekese merupakan karya yang memuat berbagai segi dan faktor yang mempengaruhinya. Hal itu berarti, bahwa keberhasilan katekese merupakan korelasi dari berbagai faktor, dimulai dari subyek siapa yang berkatekese, sarananya serta media yang memungkinkan dan membangun isi serta suasana katekese tersebut. Untuk kepentingan itu, maka katekese membutuhkan perencanaan, pengorganisasian dan pemantauan aktivitas.
Dalam Manajemen ada 4 fungsi yang mendasari, yaitu planning atau perencanaan, organizing, aktiving dan controling atau pemantauan. Fungsi-fungsi ini merupakan mekanisme yang selalu mendasari bagaimana sesuatu pengorganisasian aktivitas dapat bekerja baik. Begitu pun dengan karya katekese, patutlah memuat mekanisme pendekatan dan fungsi manajemen tersebut. Maka karya katekese memerlukan apa yang disebut mekanisme perencanaan-planning, organising, aktiviting dan controling.

purwono nugroho adhi
disarikan dari Buku Pengembangan Tim Pewartaan Paroki
disusun Komkat KAS, terbitan Kanisius




foto-foto kegiatan kaderisasi dan bina lanjut katekis oleh Komisi Kateketik KAS yang sudah dilaksanakan dari tahun 2005-2008

Minggu, 09 November 2008

Seukir kisah Sendangsono menuai langit



Hujan membasahi serambi pojok rumah sederhana, ketika sepasang mata menerawang memandang langit. Mata itu sayu dan berkaca-kaca, seakan ingin mengatakan sesuatu tentang harapan nun jauh di sana. Terlihat linang matanya mengalir membasahi pipinya yang berkerut menunjukan kisahnya yang sudah begitu panjang. Kadang mata itu terpejam sejenak, seakan beristirahat dari untaian waktu yang telah merenggutnya. Langit menggulirkan hujan terasa membisu membiarkan sepasang mata itu memandangnya dengan sayu. Langit yang telah menyisakan banyak kisah bagi sepasang mata itu. Seberkas matanya seakan telah menampilkan potret kisahnya. Kisahnya untuk selalu memandang langit. Tak henti-hentinya mata itu memandang langit yang kian memutih seiring beraraknya awan dan munculnya seberkas pelangi jingga.

Dari kejauhan tampak langkah kaki seorang lelaki yang membuat sepasang mata itu terhenyak dari buaian langit yang memutih. Permulaan tahun 1903 merupakan sebuah keajaiban bagi van Lith, matanya berbinar mengiringi putihnya langit yang kian terang. Langkah kaki itu langkah kecil penuh percaya dari seorang guru kerasulan bernama Dawud. Ia bersama empat kepala desa dari pegunungan Kalibawang ingin mengabdikan sepenuh hidupnya untuk Gereja. Pertemuan itu merupakan lembaran baru bagi van Lith melangkah menuai persemaian kasih Allah yang telah ia rindukan seumur panenan musim di dalam hatinya. Pikirannya melayang membuka kembali kenangan lama yang ia sudah kuburkan. Betapa awalnya ketika ia menginjakan kakinya di tanah Jawa ini sesungguhnya ia merasa bahwa misi di tanah Jawa merupakan keterpaksaan dan suatu kurban demi ketaatan religius. Namun hari itu telah menuai harapan besar bahwa kasih Allah sungguh akan bersemi indah di tanah Jawa ini.
Dengan berbekal semangat warta, van Lith bersama Dawud menuai satu persatu untaian kasih Allah kepada setiap mata, bibir dan hati wajah-wajah sederhana yang merindukan langit bersemayam di hati mereka. Pagi, siang, petang, puluhan kilo, akhirnya empat kepala desa ini dibabtis. Pagi 20 Mei 1904 empat wajah tersebut berbinar menerimakan Kristus hadir di dalam hati mereka.

Angin semilir berembus mengiringi van Lith, Dawud, dan empat kepala desa menapaki perjalanan warta yang mereka ingin persemaikan di bukit Menoreh. Mereka bertutur tentang kasih, tentang Kristus, kepada wajah-wajah sederhana yang seakan tak pernah berhenti untuk selalu merindukan dan mengenadah langit. Berbagai tawa, senyum telah terukir di dalam perjumpaan di bawah pohon Sono, di pinggir sungai yang mengalir, di sudut petak-petak rumah. Tutur tentang kasih mulai bergema melalui mereka membahana dibawa angin timur yang segar kepada seluruh hati yang sederhana dan tulus.
Matahari bersinar menembus horison bumi menghantarkan cahaya bagi semua mahluk. Terlihat dari kejauhan langkah kecil 172 hati yang berbinar menantikan sentuhan kasih Allah menyapa mereka. Langkah mereka pasti dan berjalan beriringan menapaki tanah Menoreh yang telah menoreh indahnya kasih Allah. Pohon Sono menjulang tinggi, dibawahnya mengalir air yang menggenangi akar-akarnya. Di tempat itulah 171 hati membuka hidupnya untuk perjalan baru menuai langit di bumi ini. 14 Desember 1904 air mata air Sendangsono mengalir menetes dari tangan van Lith kepada dahi 171 hati. Tetesan itu mengalir perlahan mengiringi untaian tutur “Jadikanlah hatiku murni, Ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan semangat yang teguh. Janganlah membuang aku dari hadapanMu. Bangkitkanlah kegirangan dalam hatiku karena diselamatkan ….Dalam satu Roh, semua telah dibabtis menjadi satu tubuh dan semua diberi minum satu Roh.” Hari itu, waktu mulai bergulir memaparkan kisah warta yang tak akan pernah habis di tanah Jawa ini. Begitupun kisah van Lith mulai membuka perjalanan itu. Karya kasihnya mulai terasa melangkah dari bukit menoreh menuju ke ujung-ujung persada Nusantara kita ini. Karya warta van Lith merupakan karya yang tidak terbatas pada bidang keagamaan semata, melainkan karya misi yang dilandasi segi pembelaan terhadap kaum lemah pribumi melalui sebuah penyadaran akan hak-hak kemanusiaan. Karyanya semakin nyata di dalam karya pendidikan yang diusahakan untuk mendidik dan memperkembangkan para pioner - pioner pribumi, yang kelak menjadi tokoh-tokoh baik secara kemasyarakatan maupun secara Kristiani. Pendekatan misi van Lith merupakan pendekatan yang mempunyai visi baru dan luas bagi Gereja. Perhatiannya tidak terpusat pada sekedar permandian individu melainkan pewartaan Injil yang meluas sebagai daya pembaharu di dalam masyarakat. Kekaryaan misi tidak sekedar lepas, melainkan masuk kedalam kehidupan masyarakat Jawa, tinggal bersama dan mengambil penderitaan yang dihadapi. Ia tinggal di tengah-tengah umat tidak sekedar mewartakan kabar gembira tetapi mencurahkan ke dalam sanubari hati mengenai cinta Allah. Ia tidak sekedar datang sebagai orang yang membawa agama asing melainkan juga percaya bahwa Allah telah berkarya dalam hati bangsa yang ia wartai.

Pintu sebuah rumah sederhana terbuka perlahan, sepasang mata dengan redup memandang ke depan, menatap sayu ke langit yang kian memutih. Dengan perlahan orang itu duduk di sebuah kursi tua di depan rumahnya. Dialah Barnabas Sarikrama seorang tua dari empat orang yang pertama dibabtis van Lith yang kemudian telah mengabdikan sepenuh hatinya bagi warta kasih Allah. Dijinjingnya sebuah bintang Pro Ecclesia et Pontifice di tangan tuannya yang kian merenta. Gurat pipinya telah menorehkan penghargaan bagi Gereja, matanya mengiringi ingatannya ketika ia menerima penghargaan dari Paus Pius XI pada kesempatan Jubileum misi Jawa di tahun 1929. Ia mulai menangis, tetes air matanya membasahi pipinya ketika kenangan betapa ketika muda ia pernah menderita sakit di kakinya. Setelah ia menghadap pergi ke Bruder Kersten, sakit di kakinya mulai sembuh, Ia berjanji untuk mempergunakan kakinya untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk Allah. Senyum simpul mengiringi tetes air matanya, ketika terbayang kembali waktu demi waktunyaia habiskan untuk berkeliling di pegunungan Menoreh menuai warta bagi mereka yang hatinya terbuka kepada kasih Allah. Dari wartanya, bukit Menoreh semakin mekar bersemikan kasih Allah. Sedikit demi sedikit jumlah mereka yang membuka hati kepada kasih Allah semakin meluas.
Seiring tatapan sayu Sarikrama, perlahan dari kejauhan langkah kaki Seorang J.B. Prennthaler berjalan menghapiri Sarikrama yang duduk di bangku di teras rumahnya. Senyum gembira Sarikrama menyambutnya, seakan ingin menuturkan kembali kisah J.B. Prennthaler yang telah mengukir tanah Menoreh kepada kemajuan karya Gereja. Melalui tangan Prennthaler inilah di tahun 1929 dibangunnya gua Lourdes di Sendangsono, dimana seperempat abad sebelumnya van Lith telah mengukir kisah langit di tempat itu. Prennthaler mengukir banyak hal di Menoreh, dimana banyak kemajuan karya yang telah bersemi seterusnya di sana.
Sarikrama, Dawud, dan 172 orang, menjadi persemaian yang tak pernah berhenti mewartakan betapa kasih Allah tak pernah berhenti di bumi ini. Untaian-untaian warta itu terus bergulir bagaikan air yang mengalir tiada henti untuk selalu menuai berkat bagi orang-orang yang mencari langit. 100 tahun sudah, tutur itu bersemi menumbuhkan tunas-tunas baru. Menumbuhkan Sarikrama-Sarikrama baru yang kian mengkidungkan tiada henti kasih Allah di bumi ini.

Sepasang mata membuka menatap langit seiring dengan derai hujan yang turun kembali membasahi tanah. Langit yang mulai memutih sekarang diliputi oleh hujan kembali, tapi mata itu tetap melihat keindahan, bahwa langit tetap cerah dan pelangi jingga tetap tampak. Mata itu seakan bertanya, betapa aneh, hujan turun bersama terbitnya pelanggi jingga. Mata itu seakan berpikir, mungkin hujan ini adalah berkat langit untuk mengiringi langkah mereka yang seluruh hatinya dan segenap jiwanya diserahkan untuk mewartakan kasih Allah bagi mereka yang rindu akan langit. Sepasang mata itu memperlihatkan sosoknya yang sederhana dengan baju ala kadarnya. 100 tahun sudah langkah kasih akan warta bersemi di tanah Jawa ini gumamnya. Dengan perlahan ia berjalan perlahan menenteng tas lusuh yang selalu menghiasinya. Dialah seorang katekis paroki yang sudah 20 tahun ini mengabdikan dirinya untuk menumbuhkan warta akan kasih Allah. Kenangan akan kisah warta kasih Sendangsono memperkuat dirinya untuk melangkah semakin mendalam untuk setia pada panggilan dia sebagai seorang rasul awam. Begitupun disusul di sampingnya seorang muda, yang baru masih dua tahun ini mengabdikan dirinya untuk menyongsong kesetiaannya sebagai rasul awam. Mereka berjalan bersama sambil berbincang mengenai kehidupan, seakan seperti ingin mengukir kembali kisah dua rasul yang berjalan ke Emaus. Bagi mereka inilah perjalanan Emaus mereka, perjalanan yang tak pernah mengenal kata akhir untuk selalu setia pada panggilan menjadi putra-putra langit, dimana perjalanan Emaus mengingatkan ketika Allah sendiri hadir untuk menemani hidup manusia.

Mei, 2004, peringatan syukur 100 tahun pembabtisan di Sendangsono
Purwono Nugroho Adhi

RELEVANSI PERAN KATEKIS AKADEMIS DALAM MASYARAKAT DEWASA INI




Dewasa ini masyarakat kita dihadapkan pada banyak kemajuan cara berpikir, cara bertindak, cara menginternalisasi makna dan berbagai perubahan yang mendasar mengenai orientasi cara pandang (world view). Hal tersebut membawa kepada implikasi dan konsekwensi mengenai berbagai perubahan perilaku, sikap, dan tata budaya. Perubahan tersebut juga membawa implikasi yang besar di dalam hidup menggereja. Jika kita amati bersama, ruang hidup keagamaan dewasa ini tidak lagi bersifat single face (berwajah tunggal), melainkan sudah bersifat multifaces (berwajah banyak). Begitu juga kemajuan budaya, membawa ruang hidup keagamaan kepada relevansi keilmuan (sciences). Relevansi keilmuan ini pun cukup membingungkan, dimana ruang agama memasuki tarik menarik antara kategori pure sciences (ilmu dasar) atau applied science (ilmu terapan).
Perkembangan berbagai hal itu membawa perubahan pada segi hidup menggereja. Sifat kehidupan agama yang multiface membawa angin segar ruang agama yang tidak sarat hanya dengan permasalahan dogma, ajaran dan teologi semata, melainkan membawa kepada relevansinya terhadap ruang realitas hidup. Namun sering kali ruang agama yang sedemikian membawa sebuah konsekwensi applied science yang membawa agama sebagai sesuatu yang sarat dengan kepentingan, termasuk dalam ruang ilmu sosial politik. Agama bukan lagi sebuah pure science yang bergerak pada wilayah sakral dan transendenitas, melainkan sudah bercampur dalam wajahnya yang profan. Hal itu sebenarnya dapat membawa implikasi yang negatif sekaligus positif, dimana terjadinya proses sekularisme Gereja, sekaligus sekularisasi Gereja.
Proses ini sebenarnya menjadi peluang besar bagi relevansi pentingnya para tenaga pastoral kateketis secara akademis. Hal itu mendasar pada upaya peran katekis akademis sebagai mediator penting untuk memberi makna hermeneutis antara rumusan suatu sintesis yang progresif dan koheren antara pengalaman akan Tuhan (fides qua) dan isi pesan religi (fides quae). Dalam hal ini para katekis akademisi berkompeten untuk mengupayakan sebuah proses pure science dan applied science ruang hidup menggereja, dimana applied sciences yang diusahakan bukan sebuah kepentingan yang ekslusif, melainkan sungguh mendasar pada koherensi atas pure scinces, sehingga menjadi sintetis reflektif agama yang sungguh mendasar pada nilai-nilai pembangunan manusia seutuhnya.

1.Revitalisasi Katekis Akademis dan perannya dalam situasi modernitas masyarakat global.

Jika kita sadari bersama tantangan karya pewartaan gereja memerlukan kreatifitas, inovasi dan kontekstualitas yang dapat menyapa orang-orang zaman ini. Karya pewartaan memang membutuhkan kreatifitas yang besar, mengingat tantangan zaman yang sarat dengan berbagai tingkat kemajuan dan berbagai perubahan dalam tata budaya dewasa ini. Berbagai metode perlu diupayakan untuk mengupayakan sapaan pastoral bagi masyarakat yang dirundung kecemasan modernitas yang telah menggila ini . Saat ini menjadi tarik menarik yang begitu besar, antara keleluasaan dan kreatifitas tetapi juga tidak meninggalkan arti dan makna yang sejati terkandung di dalamnya. Kita sadari bersama, Katekis adalah seorang perantara. Ia mempermudah komunikasi antara manusia dengan misteri Allah, dimana setiap orang dapat berjumpa dengan pengalaman yang mendalam akan Allah, baik bersifat pribadi maupun dalam paguyuban hidup menjemaat.
Peran katekis akademis, dalam kompetensi sebagai seorang akademisi haruslah mampu mensintesakan misteri mengenai Allah ke dalam realitas hidup manusia dewasa ini. Kompetensi tersebut meliputi peran akademisi kateketik dimana bukan sekedar relevansi teologis dan filsafat, melainkan bagaimana menyerap sebuah refleksi realitas ke dalam hermeneutik mengenai pengalaman akan Allah (being religious). Peran ini, merupakan peran profesionalitas yang harus ada bagi katekis dalam bidang pergulatan formasi dan kompetensi yang dapat mensintesakan antara ilmu-ilmu manusia dengan rumusan teologis melalui metedologi pendidikan yang progresif dewasa ini.
Situasi global dewasa ini telah merefleksikan secara mendalam mengenai fenomena yang akhir-akhir ini berkembang di dalam masyarakat. Proses itu meliputi keterhubungan (interconnectedness) seluruh pelosok bola dunia pada tingkat keluasaan (extensity), berpengaruh kuat (impact),kehebatan (intensity), maupun kecepatan (velocity) di dalam lingkup hidup manusia. Pengaruh dari hal tersebut terjadi detradisionalisasi, revolusi informasi , kemajuan tehnologi yang pesat (IPTEK). Begitu juga satu sisi peradaban dunia semakin maju pesat demikian ampuhnya, namun di sisi lain manusia mulai merasakan runtuhnya kebermaknaan hidupnya, manusia menjadi terasing akan dirinya, manusia menjadi tidak tahu lagi identitas dirinya. Manusia tidak lagi mempunyai “mimpi” lagi, segalanya telah diubah menjadi komoditi, aset dan tehnologi yang siap pakai. Manusia tanpa “ïmaginasi” lagi, semuannya sudah berubah menjadi realitas. Dunia telah berubah, manusia telah memasuki abad masyarakat komersial . Di dalam fenomena ini ditandai dengan adanya pembagian kerja di dalam masyarakat sedemikian rupa, pembagian distributif dari hasil produksi, baik individu maupun kelompok. Kemudian adanya sebuah kerangka kerja hukum mengenai milik pribadi dan kontrak. Maka dalam hal ini para individu mempunyai hak-hak eksklusif untuk memakai obyek-obyek yang dimiliki, dan juga hak untuk memindahkan hak-hak tersebut kepada yang lain. Oleh karena itu kekuatan fenomen ini akan membawa manusia kepada kecenderungan individual untuk bertindak demi kepentingan sendiri. Hedonisme psikologis meraja rela dimana-mana, setiap individu mengklaim bahwa mereka berhak atas kenikmatan diri, karena semua ditujukkan untuk kepentingan “kebahagiaan”diri (ultilitarisme). Maka ultilitarisme merupakan satu-satunya “moralitas” yang sesuai dengan mekanisme pasar. Kepentingan moralitas akan diukur dalam rangka untung dan rugi untuk kepentingan individual. Kekuatan moralitas pun sampai kepada kekuatan yang sekedar “masuk akal” semata, dengan poros kepentingan hak individu.
Berbagai permasalahan ruang hidup tersebut, menjadi permasalahan yang juga menghimpit kehidupan mengereja dewasa ini. Maka betapa perlunya sebuah revitalisasi mendasar mengenai kompetensi katekis akademisi untuk menjadi pemikir, perumus pastoral kateketis untuk membuat alternatif-alternatif progresif yang dapat mengajak umat mensintesakan kembali pengalaman akan Allah, menghadirkan kembali keriduan akan Allah dalam kecemasan globalisasi dan modernitas tersebut. Peran ini haruslah dikembangkan secara lebih progresif, tidak terbatas pada apa yang disebut katekese inisiasi, melainkan harus menjadi pengembangan peran katekis akademis untuk merumuskan refleksi dan metodologi di dalam katekese lanjut . Maka dalam percaturan global dan kecemasan modernitas tersebut, katekis akademis menempatkan fungsinya yang relevan sebagai orang yang secara profesional mempunyai core competence mengembangkan peran-peran edukatif dan transformatif untuk mengajak umat di dalam hidup menggereja merefleksikan ruang hidupnya dangan visi kristianitas yang mendalam, hal tersebut meliputi ;
  • Human relationship yaitu, kemampuan dari katekis akademis untuk dapat berelasi dengan orang lain, yang meliputi unsur ketrampilan sosial, kehangatan, empati, simpati dan bagaimana peluang berelasi dengan banyak pihak. Hal ini menjadi penting, untuk mengembangkan proses katekis akademis menjadi mediator, fasilitator untuk mengajak umat sampai kepada pengalaman akan Allah.
  • Technical skill yaitu, kemampuan dari katekis akademis dalam bidang atau kompetensi yang dimiliki dan dikuasai secara sungguh-sugguh. Kemampuan ini meliputi penguasaan dan ketrampilan dalam bidang pembangunan isi dan suasana katekese. Terkait dengan realitas sosial dewasa ini, katekis akademis harus mampu mempunyai ketrampilan mensintesakan realitas sosial dengan berbagai gagasan teologi secara sederhana sehingga menjadi bahan yang edukatif dan transformatif hidup umat.
  • Technological skill atau muatan teknologi yaitu, kemampuan katekis akademis mempergunakan berbagai prasarana-sarana dan mengembangkan media pendukung untuk mengembangkan proses isi serta suasana katekese untuk memperkembangkan kapasitasnya sebagai fasilitator. Media yang dikembangkan haruslah mendukung berbagai upaya edukatif dan trasnformatif atas pengalaman iman umat.
  • Kontesktualitas yaitu, bagaimana katekese sungguh sudah menjawab kebutuhan umat, dan sesuai dengan aspirasi dan harapan umat, bersifat kepada pelayanan umat, untuk kepentingan umat dan berdaya guna untuk umat.

2. Reposisi dan Revitalisasi katekis akademis dalam peranannya mengembangkan CBO (Community Base Organitation) di dalam hidup menggereja umat.

Katekis akademis mempunyai peran yang besar di dalam fungsinya sebagai fasilitator untuk mengupayakan sintesa pengalaman kolektif umat di dalam terang visi iman. Hal itu mendasar pada peran katekis akademis sebagai perencana (plan) pengembangan partisipasi ruang hidup umat yang sungguh-sungguh berdaya dan bergerak nyata di dalam masyarakat. Kita sadari bersama, Katekese Umat menjadi suatu ruang dimana refleksi iman sungguh disatukan dengan pengalaman sosio politis apa yang dihadapi umat di dalam masyarakat. Melalui Katekese Umat, apa yang kultis semakin direfleksikan untuk menjadi bagian dari actus yang harus diperjuangkan bersama. Perjuangan tidaklah semata-mata politis, melainkan ada aspek visi pada sebuah nilai dan pusat keluhuran budi manusia yang telah di-internalisasi kedalam spiritualitas ruang kultis umat. Perjuangan akan semakin menampakan visinya di dalam kancah sosio politis, bahwa tidak sekedar menjadi gerakan biasa melainkan menjadi gerakan yang utuh merambah kesatuan aspek etis-spiritualitas, sehingga pilihan politispun sungguh berpusat pada nilai kemanusiaan.
Dalam hal ini katekis akademis mempunyai fungsi untuk mengupayakan sintesa iman dan situasi aktual umat. Jika kita lihat bersama, perantaraan iman membutuhkan jembatan antara situasi tradisi iman yang lampau dengan keberadaan Kristianitas dalam situasi yang baru saat ini. Hal ini membutuhkan dialektika antara apa yang menjadi Visi dengan kenyataan faktual yang dihadapi. Terkait dengan situasi aktual umat, akumulasi pengalaman, penilaian dan refleksi bagaimana sebuah situasi aktual umat berdampak pada ruang hidup masyarakat dicoba untuk diteguhkan dan dikonfrontasi dalam bingkai visi. Hermeneutik yang cukup representatif terkait dengan daya kritis situasi aktual umat adalah hermeneutik yang bersifat identifikasi antara pengalaman manusiawi dengan pengalaman religius. Bingkai hermeneutik ini mencoba untuk menemukan nilai bahwa di dalam kodrat dan pengalaman manusiawi ditemukan petunjuk-petunjuk ke arah adikodrati (analogia etis) .
Maka dalam kerangka bingkai hermeneutik identifikasi ini, pengalaman-pengalaman faktual berhadapan dengan ketidakadilan atas berbagai situasi aktual umat menjadi pengalaman upaya bagaimana Gereja harus berbuat untuk mengupayakan perjuangan keadilan sebagai sebuah pengalaman pembebasan dan warta sejati mengenai Kerajaan Allah di kancah hidup masyarakat saat ini. Pengalaman, harapan, penilaian, kekritisan akan situasi aktual umat yang muncul serta direfleksikan dalam bingkai analisa sosial diidentifikasikan dengan sebuah visi mengenai tradisi suci yang kaya akan nilai-nilai pembebasan dari Allah. Tradisi suci-Kitab Suci mengenai kisah Yesus memberikan inspirasi, motivasi yang mendalam mengenai sebuah perjuangan sosio politis sebuah komunitas kritis yang saat ini berkarya. Komunitas itu adalah umat yang bersama dengan katekis untuk mencoba menggali berbagai aspirasi kritis persoalan situasi aktual umat.
Peran katekis akademis menjadi sangat strategis dalam arti tersebut. Hal itu didasari, bagaimana katekis mampu mengupayakan fungsinya menjadi fasilitator pemberdayaan komunitas basis umat. Hal tersebut meliputi kemampuan katekis akademis di dalam upaya; planing, pengorganisasian, aktualita serta evaluasi dan refleksi karya katekese yang sungguh-sungguh mendasar pada berbagai peran kritis di dalam masyarakat.

purwono nugroho adhi
alumniIPPAK USD

Catatan Kepustakaan
M. Amin Abdullah, (1997). Relevansi Ilmu-Ilmu Agama, makalah dimuat dalam Gereja Indonesia Pasca Konsili Vatikan II. Yogyakarta : Kanisius.
Ross Poole. (1993). Moralitas & Modernitas. Yogyakarta: Kanisius
Berbagai makalah penulis